Pages

Review Kuntilanak (2018): "Mirip Film Anak versi Mencari Kuntilanak"

Kuntilanak memang begitu melegenda, berbagai versi film pun berhasil lahir dari kisahnya. Namun pada 2018 ini, film Kuntilanak malah mengecewakan.




Kesukseskan sebuah film trilogi horor ini memang pernah dirasakan pada 2006 sampai 2008. Saat itu, film Kuntilanak diarahkan oleh Rizal Mantovani, yang memang dikenal bertangan dingin.

Lama tidak muncul, Rizal pun kembali membawakan kisah Kuntilanak, namun dengan gaya yang lebih segar. Tampilan gambar dan dialognya pun tampak tidak kuno. Kuntilanak yang tayang pada 15 Juni 2018 ini pun dikemas dengan cara yang berbeda.

Bagaimana bisa berbeda?

Kuntilanak kali ini tak lagi memakai gaya trilogi. Rizal lebih menambahkan bumbu komedi dan kehidupan pemuda masa kini. Meski begitu, Rizal mengaku tetap menghubungkan film terbarunya ini dengan trilogi Kuntilanak sebelumnya.

Dalam film ini, Rizal menceritakan kisah petualangan lima anak yatim piatu (Seperti Sandrinna Michelle, Andryan Bima, Ciara Nadine Brosnan, Adlu Fahrezy, Ali Fikry, dan Andryan Bima).

Kelima anak bersama Tante Donna (foto: id.bookmyshow.com)

Mereka berlima dibantu Tante Donna (Nena Rosier) yang berperan sebagai ibu asuh dan Lydia (Aurelie Moeremans) sebagai keponakan Tante Dona.

Dikisahkan, kelima anak itu harus ditinggal oleh Tante Donna ke luar negeri untuk menemui keluarganya. Hak asuh pun dilemparkan kepada keponakannya, Lydia.

Lydia memiliki seorang pacar (Fero Walandouw) yang membawakannya sebuah cermin bekas. Mereka tak mengetahui bahwa cermin itu punya sejarah yang kelam.

Semenjak saat itu, berbagai peristiwa horor pun dialami oleh kelima anak tersebut. Terus berlanjut, bahkan sampai menyerang Lydia.

Uniknya, kelima anak ini justru tidak sepenuhnya takut. Mereka malah penasaran dengan adanya Kuntilanak, dan mencari cara bagaimana bisa menemuinya. Dari sinilah petualang dimulai.

Mengecewakan


Saya telah menyaksikan film ini sejak awal rilis. Bagi saya, Rizal kurang berhasil untuk menakut-nakuti penonton. Adegan seram dalam film ini kurang ditekankan.

Malah saya pikir, ini seperti film keluarga, yang isinya soal persahabatan layaknya film Petualangan Sherina, bedanya hanya ada Kuntilanak. Jadi lebih baik judulnya: Petualangan Sherina Mencari Kuntilanak.

Mirip Petualangan Sherina (foto: id.bookmyshow.com)

Peran Lydia pun kurang mengayomi anak-anak tersebut dalam film ini. Ia terlalu sibuk berpacaran, sehingga saya bingung, ini film soal gaya hidup anak muda, atau horor (?).

Ditambah lagi alur yang terlalu terburu-buru dan setiap scene yang lebih cocok diputar di televisi, sebagai drama serial. Hal-hal tersebutlah yang membuat saya menilai Kuntilanak mengecewakan.

Saya menyarankan, film sebaiknya tidak terlalu terburu-buru dan lebih fokus mengambil masalah yang ingin disinggung. Tidak masalah jika ada anak-anak, justru itu bisa menjadi pemicu yang baik seperti di film The Conjuring. Namun, menurut saya, akan lebih baik jika berfokus pada horornya daripada kehidupan anak-anak.

Karena saya ingin ketakutan, bukan senyum kebahagiaan melihat tingkah kelima anak tersebut. Saya menonton bukan untuk berandai-andai: "Bagaimana kalau saya punya anak-anak seperti mereka ya?". Apalagi dalam film ini ada adegan pacarannya. Ya... kalau pesan yang ingin disampaikan itu sih, film ini sangat berhasil, hahahaha.

Namun itu semua adalah komentar pribadi saya. Jadi bisa saja persepsi kalian berbeda.

Daripada penasaran bagaimana filmnya, mending nonton langsung di bioskop-bioskop. Masih tayang sejak 15 Juni 2018 lalu. Awas Kuntilanak di belakangmu.

Redaksi

Menulis adalah cara saya mencari kebenaran yang tak selalu saya anggap kebenaran.

No comments:

Post a Comment