Pages

Pertama Kali Naik Motor ke Puncak, Sampai Bertemu Villa Murah!

Sejak pagi saya sudah memikirkannya, ini kali pertama saya ke puncak menggunakan motor. Sepeda roda dua bebek Supra legendaris, menemani selama perjalanan mencari villa.

Perjalanan ini menjadi spesial karena selain pertama kali, ini adalah impian saya selama ini.

Bukan berlebihan jika saya mengimpikannya terus menerus, karena saya pikir motor ini tidak akan kuat pergi ke puncak Bogor dari Kramat Jati, Jakarta Timur. Saya hanya membayangkan kendaraan ini mogok, dan harus didorong atau bahkan tidak bisa berjalan sama sekali.

Tapi semua itu berubah!

Setelah saya seharian berkendara dari jam 10 pagi sampai jam 7 malam. Motor saya ternyata masih kuat, meski sedikit ngos-ngosan saat tanjakan. Wajar saja, motor ini sudah menemani saya selama lebih dari 5 tahun dan dipakai kakak saya 2 tahun, jadi total 7 tahunan umurnya.

Apa yang saya rasakan? Bangga!


Bangga sekali bisa berjalan sejauh ini dengan motor Supra. Apalagi saya membonceng teman saya, Elva, dan berjalan beriringan bersama Naufal dan Laila, teman-teman sekelas saya.

Memang kami sedang mensurvei villa. Dari villa yang paling mahal tapi jelek bukan main, sampai yang paling murah tapi bagusnya seperti hotel Jakarta.

Jadi buat kalian yang tahu villa-villa murah, boleh info ke saya, mana tahu bisa jadi refrensi terbaru.

Hingga akhirnya kami menetapkan hati di satu villa murah tapi cukup tenang dan ada kolam renang. Mau tahu harganya? Rp1,8 juta untuk dua hari satu malam! Bayangkan...

Villa itu namanya Villa Puri Asri, kalian bisa temuin di Jalan Raya Puncak km 84,5 Sampay, depan resto polo-polo atau juga KFC, Cisarua, Bogor, 16750.

Tempatnya kira-kira seperti ini:

Pertama Kali Naik Motor ke Puncak, Sampai Bertemu Villa Nyaman nan Murah
Kolam Renang bersama

Pertama Kali Naik Motor ke Puncak, Sampai Bertemu Villa Nyaman nan Murah

Pertama Kali Naik Motor ke Puncak, Sampai Bertemu Villa Nyaman nan Murah

Pertama Kali Naik Motor ke Puncak, Sampai Bertemu Villa Nyaman nan Murah

Villanya memang dekat kali, jadi suasana desanya sangat terasa. Dingin udara puncak pun sangat sejuk, karena wilayah ini sudah mendekati puncak pas atau dekat kebun teh.

Jika kalian ke sini, ada beberapa pilihan villa, mulai dari yang tiga kamar, sampai 5 atau lebih. Selain itu juga ada yang kolam renang pribadi, ada juga yang dipakai bersama. Intinya asik.

Pedagang Menyebalkan


Kembali ke perjalanan saya di puncak. Selama naik motor, beberapa kali kami harus menepi untuk mengisi bensin. Terkadang saya yang mengisi dan Naufal menunggu, terkadang Naufal mengisi, saya menunggu.

Nah, di saat saya menunggu, ada hal menyebalkan menurut boncengan saya, Elva. Ia bahkan tidak habis pikir mengapa hal itu bisa terjadi.

Jadi ada pedagang gorengan yang tidak sengaja kami tutupi dagangannya. Awalnya pedagang itu tidak bicara sedikitpun, hingga 5 menit berlalu, kami ditegur: "Mas, mas majuin mas motornya, ngalangin dagangan saya aja!"Begitu kata bapaknya.

Saya pun menurutinya. 

Namun tak sampai 5 detik, bapak pedagang gorengan itu kembali menegur. "Mas mas majuin lagi mas.. kayak mau beli aja!" katanya sinis.

"Wah..." hanya itu yang saya dan Elva pikirkan. Tidak biasanya kami diperlakukan seperti ini.

Tapi di sisi lain, saya pikir wajar, siapatahu dagangan dia tidak laku-laku. Orang cuma dagang tempe dan tahu goreng, kalau ada pisang goreng mah saya beli, ini nggak ada!

Elva pun hanya ngedumel setelahnya. Ia heran mengapa saya hanya diam saja dan tidak membentak balik, ia heran mengapa pedagang itu tidak sopan untuk meminta.

Tapi Saya Punya Alasan

Saya juga seorang pedagang, tepatnya pedagang online. Saya tahu rasanya sepi pembeli, tidak makan, sampai-sampai berhutang sana-sini. (Ini dagangan saya: Honesiax)

Jadi saya pikir, wajar-wajar saja kalau bapak gorengan itu marah-marah. Karena mungkin, dia sudah tidak punya uang, atau bahkan hutangnya banyak. Ya, saya merasa senasib seperjuangan saja. Jadi saya secara alami, menolak untuk marah. 

Perjalanan pun kami lanjutkan hingga pulang. Selama di sana, ada beberapa pengemis yang cukup miris jika diceritakan. Pengemis itu dua kali saya temukan di pinggir jalan, dari puncak sampai di pasar Cisarua. Entah bagaimana dia bisa berjalan sejauh itu.

Nah, itu dia kesan saya saat pertama kali mengendarai motor ke Puncak, Bogor. Pengalaman yang cukup berharga, pencapaian tersendiri bagi saya.

Oh iya, jika kamu mau baca cerita-cerita saya selanjutnya, bookmark saja blog ini, atau pantengin terus setiap harinya. Saya akan sering update, karena saya juga senang menulis dan berbagi.

Btw baru dapet WA dari abang-abang villanya. Dia ngirim foto-foto villa lainnya yang masih satu komplek. Dia cuma bilang: "Belom liat villa yang lain sih bang... Kan ada yg 2,4 dan 5 kmr" Yaelah bang udah keburu sore..

Ini ya foto-fotonya, mana tau tertarik, dan ini nomor abangnya: +62 813-1880-8472 (Pak Dias):








Redaksi

Menulis adalah cara saya mencari kebenaran yang tak selalu saya anggap kebenaran.

No comments:

Post a Comment