Pages

Review Film 22 Menit: 71 Menit yang Memukau

Ada sesuatu yang sungguh layak ditiru oleh film-film Indonesia lainnya dari 22 Menit. Dengan durasi yang hanya 71 menit, framing film ini cukup berhasil menggambarkan sisi lain tragedi Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat.

Mungkin kalian tidak akan lupa kejadian pada 14 Januari 2018 lalu. Saat teroris berhasil mengacaukan kawasan elit, Sarinah.


Saat itu, sejumlah televisi bahkan menyiarkan langsung bagaimana proses perlawanan teroris terhadap polisi. Baku tembak, layaknya film-film aksi layar kaca, juga tersebar lewat rekaman-rekaman amatir dan foto-foto netizen.

Hingga akhirnya, tragedi itu berakhir hanya dalam waktu 22 menit. Ya, polisi berhasil melumpuhkan para teroris yang mengancam dan akan mengancam, hanya dalam waktu 22 menit.

Hal-hal itulah yang ditonjolkan dalam film 22 Menit, yang disutradarari oleh Eugene Panji dan Myrna Paramita Pohan.

Lalu Bagaimana Review Film 22 Menit ini?


1. Bangga

Review Film 22 Menit Memukau

Rasa bangga terhadap kepolisian Indonesia adalah respon saya pertama kali usai menonton film ini. Ario Bayu, sebagai Ardi (salah satu anggota unit antiterorisme), berhasil menggambarkan polisi "tampan" nan cerdas yang berperan melumpuhkan para teroris.

2. Layak Ditiru Film-Film Indonesia Lainnya

Review Film 22 Menit Memukau


Film berdurasi 71 menit ini pun terasa sangat padat, karena framingnya juga tepat. Sangat sedikit hal-hal "tidak perlu" yang disorot kamera dalam film ini.

Kepadatan itulah yang baiknya ditiru oleh film-film Indonesia lainnya. 

Jarang sekali ada film Indonesia yang framingnya begitu padat. Kebanyakan dari film-film Indonesia, hobi sekali menampilkan omong kosong. Bahkan tak jarang, omong kosong itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan tujuan filmnya.

3. Sinematografinya Good

Review Film 22 Menit Memukau


Saya cukup kagum dengan pengambilan gambar film 22 menit ini. Mereka berhasil memainkan big eye view dan beberapa close up.

Memang tidak seluruh pengambilan gambarnya baik dan enak dilihat. Namun kesalahan-kesalahan sinematografi mereka pun bisa dimaafkan (fals move).

Permainan cut on movement-nya juga "kompor gas". Pergantian shot dari suatu adegan ke adegan lainnya (cut rhime), terjalin dengan manis. Rasa dari tiap adegan pun tergambar dengan nyata.

4. Alurnya Naik Turun tapi Tidak Putus

Review Film 22 Menit Memukau


Efek dramatis dari ledakan bom dan saat terjadinya serangan tergambar dengan hampir sempurna. Meskipun alurnya naik turun karena menceritakan sisi lain dari ledakan bom Sarinah, tapi hal itu tak memutus rasa ingin tahu saya sebagai penonton soal apa yang akan terjadi setelahnya.

5. Penggambaran tiap Pemeran Mantap

Review Film 22 Menit Memukau


Dalam film ini tidak hanya menceritakan soal polisi, tapi juga warga miskin maupun kaya. Penggambaran dari tiap pemeran, baik si miskin maupun si kaya, tergambar dengan baik di sini.

Masalah-masalah dari setiap golongan itu juga menjadi sisi drama tersendiri. Sementara para polisi, seakan berperan sebagai penengah yang berusaha "melindungi" masalah-masalah mereka supaya tidak makin buruk.

Para pemeran seperti Ario Bayu, Mathias Muchus, Hana Malasan, Ence Bagus, Ajeng Kartika, Taskya Namya, hingga Fanny Fadillah “Ucup” dan Ardina Rasti, patut berbangga dengan hasil kerja keras mereka.

Untuk diketahui, Jenderal Tito Karnavian juga ikut main lho... Jadi apa dia? Makanya nonton!

NAMUN


Bukan berarti saya sepenuhnya puas dengan film 22 Menit.

Ada rasa "gemas" karena tak diceritakan alasan dari teroris-teroris itu melakukan serangan. Kalaupun ada, hanya lewat dialog singkat yang menurut saya tidak menggambarkan alasan konkret dari teroris tersebut.

Selain itu, juga ada potongan-potongan gambar distrubing (mengganggu) yang cukup berbahaya bagi mereka yang takut darah. Seharusnya film ini masuk 17 tahun ke atas, bukan 13 tahun ke atas.

NAH! itu dia review film 22 menit. Pesan dari saya, film produksi Buttonijo Films ini sangat recommended.

Film ini sudah tayang di bioskop sejak kemarin, 19 Juli 2018. Saat saya menonton, film ini tampaknya kurang diminati karena masih banyak bangku kosong. Maka dari itu, yuk ramaikan film ini.

Sungguh sayang seribu sayang kalau film sebagus ini dibiarkan sepi penonton. Mari dukung perfilman Indonesia agar yang bagus naik, yang jelek diperbaiki.

Review Film 22 Menit: 71 Menit yang Memukau

Baca Juga ya, review film sebelumnya: Review Kuntilanak (2018): "Mirip Film Anak versi Mencari Kuntilanak"

Redaksi

Menulis adalah cara saya mencari kebenaran yang tak selalu saya anggap kebenaran.

No comments:

Post a Comment