Pages

Review Film Kafir (2018): Lebih Ramah Dari Pengabdi Setan

Bagaimana jadinya kalau Anda mengabdi kepada setan? Lupakan keramahan, nantikan kepunahan. Film Kafir, bisa menjawabnya secara perlahan.

Bukan! Ini bukan lanjutan film Pengabdi Setan karya Joko Anwar. Hanya saja, film ini mengambil kisah lain dari masalah yang hampir sama.

Mau tahu reviewnya? Mari baca ulasan saya di bawah ini:


Jarwo, dukun Film Kafir: Bersekutu Dengan Setan (Loc: XXI Epicentrum)

Sebelum saya me-review film Kafir (2018) ini, ada baiknya saya ceritakan sedikit dulu sinopsisnya.

Jadi film Kafir ini bercerita tentang sebuah keluarga yang mengalami peristiwa tak terduga usai ayahnya meninggal secara tak wajar. Semenjak saat itu, si ibu menjadi trauma memasak dan lebih sering merenung.

Renungan si Ibu pun bukan hanya soal stress ditinggal selamanya oleh sang suami, melainkan adanya gangguan setan. Mahluk halus itu terus mengganggu, sampai menimbulkan kepanikan di kediaman mereka.

Film "Kafir Bersekutu Dengan Setan" ini disutradarai Azhar Kinoi Lubis. Banyak yang bilang, film ini sangat mirip kisah Pengabdi Setan karya Joko Anwar.

Namun menurut saya, secara cerita film Kafir lebih "merakyat", karena mengisahkan nasib keluarga yang bermain dukun. Sehingga lebih mudah dimengerti oleh penonton karena sudah banyak yang mengisahkannya.

Seperti diketahui dalam film Pengabdi Setan, keluarga yang dihantui adalah bagian dari persekutuan setan, bukan memohon kepada dukun untuk meminta bantuan. 

Baca Juga: Jangan Nonton Pengabdi Setan

Menurut review saya, film ini jauh lebih ramah daripada Pengabdi Setan, karena jarang menonjolkan penampakan hantu yang menyeramkan. Konfliknya pun berfokus pada masalah si ibu yang diperankan Putri Ayudya, bukan soal serangan ribuan setan.

Selain itu, ada beberapa catatan menarik dari saya mengenai film ini. Berikut catatannya:


1. Lebih Baik Daripada Kafir 2002

Peralatan Dukun

Azhar Kinoi Lubis berhasil mengangkat kualitas film Kafir daripada film sebelumnya pada tahun 2002, dengan judul yang sama. Menurut IMDb, film Kafir versi 2002 hanya meraih 1 setengah bintang, atau 3,4 dari 10 nilai sempurna.

Nilai itu tampaknya akan jauh berbeda tahun ini. Para penggarap film Kafir (2018) ini terlihat lebih niat untuk menampilkan kisah mencekam. Terbukti ada beberapa kali permainan kamera yang rumit, hingga special effect yang ciamik.

2. Musik Latar yang Tidak Jelas Namun Mencekam


Dalam film ini, beberapa kali suasana mencekam didukung musik yang sangat bising. Mulai dari teriakan perempuan, piano yang mengganggu, hingga ketukan atau suara-suara yang tidak harmonis.

Namun, ketidakharmonisan musik itulah yang malah membuat adrenalin memuncak. Saya dan beberapa wartawan hanya terdiam saat kejadian menegangkan muncul.

Tandanya, film ini berhasil mencuri perhatian orang-orang yang sudah terbiasa meriview film, bagaimana yang tidak biasa? Haha.

3. Permainan Close Up


Permainan zoom outzoom in, hingga close up yang ekstrem kerap muncul di beberapa scene. Luar biasanya, setiap kamera memainkan teknik tersebut, selalu tepat dengan suasananya. Sehingga, pesan darurat dari suatu konflik tergambar dengan baik.

4. Latar dan Pengambilan Gambarnya Mantap


Jujur saja, saya belajar banyak dari film ini. Ada beberapa angel yang tidak terpikirkan oleh saya, malah muncul di film ini. Setiap pengambilan gambar dalam film ini sangat minim kebocoran.

Efek Editing yang pas mantap juga berhasil menggambarkan suasana jaman dulu dalam film ini. Tampaknya film ini masih mengambil latar tahun 2002, seperti di film sebelumnya.

5. Sujiwo Tejo Kembali Jadi Dukun


Sujiwo Tejo kembali memerankan dukun yang antagonis dalam film Kafir. Perannya sangat krusial dan berhasil menggambarkan dukung gila akan setan.

Untuk diketahui, dukun dalam film Kafir 2018 ini berbeda dengan tahun 2002 garapan Mardali Syarief. Karakter dukun Sujiwo kali ini bernama Jarwo dan bukan Kuntet (dukun santet).

Nah sampai di sini review film Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018) dari saya. Buat kalian yang ingin menonton film ini, bisa ke bioskop-bioskop terdekat pada 2 Agustus 2018 mendatang.

Semoga kalian tidak jantungan, semoga kalian kagum dengan akhir yang mengejutkan. Dukung terus perfilman Indonesia, apresiasi jika bagus, beri masukan jika kurang bagus.

Maju terus perfilman Indonesia!

Berikut beberapa hasil dokumentasi saya di Gala Premier Film Kafir: Bersekutu Dengan Setan (2018) pada 26 Juli lalu di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan:









Redaksi

Menulis adalah cara saya mencari kebenaran yang tak selalu saya anggap kebenaran.

2 comments:

  1. Waw, beberapa review film bilang film ini Bagus, malah ada yang bilang lebih Bagus dari Pengabdi Setan, super penasaran.

    Horor Indonesia semakin naik kelas sejak kesuksesan Pengabdi Setan, banyak sineas yang tertantang membuat film horor bagus, senang ah kalau begitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya saya setuju banget kalau sekarang makin banyak sineas yang bikin film-film bagus, salah satunya genre horor. Semoga semangat positif ini terus bertumbuh, agar paling tidak, perfilman Indonesia bisa mengalahkan Thailand yang sudah mulai konsisten memproduksi film yang "nagih"

      Delete