Pages

Haruskah Kita Hidup Bersama Junk Food?

Jurnal Fast Food

Haruskah kita hidup bersama junk food? Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benak saya saat berada di salah satu produsen junk food ternama, yaitu McDunal.

Ada kebingungan dalam diri saya, mengapa harus makanan sampah ini yang saya pilih? Mengapa makanan sampah ini juga yang banyak dipilih orang? Dan mengapa kita harus hidup bersama Junk Food?

Kali ini saya akan membahas bahaya makanan fast food ini, dengan cukup mendalam, tapi tak sedalam jurnal-jurnal anak kuliahan.

Junk Food adalah makanan kurang nutrisi, tidak sehat dan banyak lemak. McDunal, KaFCe, dan Puzza Hat merupakan beberapa produsen makanan sampah tersebut.

Tempat-tempat makan itu sangat digandrungi masyarakat, terutama kaum milenial. Selain karena enak, mungkin tempatnya juga nyaman.

Apalagi di kehidupan perkotaan seperti Jakarta. Hampir setiap 1 kilometer ada KaFCe, McDunal, atau tempat-tempat makan yang segenre dengan mereka.

Jangan-jangan, hal itu juga yang membuat saya dan orang-orang harus terbiasa dengan makanan sampah?

Apalagi saya hidup di negara berkembang, Indonesia. Negara yang menjadi incaran produk-produk luar untuk dipengaruhi.

Riset tahun 2015 yang diterbitkan The Lancet dan Lancet Global Health, menunjukkan bahwa masyarakat di negara-negara berkembang mudah dipengaruhi oleh iklan-iklan junk food. Camilan dan soft drink menjadi favorit kita masyarakat berkembang.

Jurnal fast food
Sampah-sampah ini juga berperan merusak bumi

Akibatnya, masyarakat miskin pun bukan semakin membaik malah makin buruk. Padahal, Amerika Serikat sendiri, yang bisa dibilang tuan rumah makanan junk food, malah lebih sehat dibanding Argentina.

Hal ini mengherankan, karena seharusnya masyarakat miskin bisa hidup lebih sehat dengan membeli umbi-umbian ketimbang paket panas. Harga keduanya jelas lebih jauh dan jelas, margin itu dapat menolong kemiskinan mereka.

Balita-balita pun diberi makan junk food.


Saya sering melihat balita-balita makan kentang goreng atau ayam kremes hasil produsen junk food. Orangtuanya menyuapi dengan santai, tanpa khawatir akibatnya.

Mungkin orang tua itu tidak tahu dampaknya, tapi orang-orang di Mesir telah merasakannya. Pertumbuhan balita di sana terhambat akibat minimnya gizi.

Anak-anak di Brazil, Vietnam, Afrika Selatan, India, Meksiko dan beberapa negara yang dulunya miskin tapi sekarang maju pun banyak yang terlihat kerdil. Kalaupun jadi gendut, itu karena obesitas, bukan sehat.

Bagaimana di Indonesia? 


Mungkin terlalu luas jika saya bahas negara ini, oleh karena itu saya persempit menjadi, bagaimana dengan Jakarta?

Di Jakarta sungguh miris, junk food telah menjadi teman sarapan. Saya pun kadang ikut-ikutan, padahal rasanya tidak enak --Lebih enak bubur kacang hijau atau bubur ayam naik haji.

Padahal menurut survei Qraved kepada 13,890 koresponden, sebanyak 92% orang Jakarta telah sadar akan bahaya junk food. Tapi nyatanya, 52% dari warga Jakarta malah tetap sarapan junk food.

Apa alasannya? Beragam.


Ada yang bilang enak, ada yang beralasan sibuk tidak punya waktu banyak, ada yang bilang praktis.

Yah tidak mudah memang menghindari godaan junk food. Tapi sebaiknya seimbangkan pola makan dengan olahraga rutin, perhatikan cara masak dari junk food yang Anda konsumsi, baca kandungan nutrisi pada kemasan junk food dan atur asupan junk food-nya.

Jadi, haruskah kita hidup bersama junk food? Lebih baik bawa makanan sendiri, atau paling tidak bawa tempat minum seperti saya ini.

Jurnal Fast Food

Pelan-pelan, saya akan meninggalkan kehidupan junk food ini.

Yuk kalian juga! biar kita tidak jadi negara berkembang yang "bodoh", mudah diakal-akali produsen junk food. Sekian jurnal fast food ini, eh artikel ini, semoga kalian dapat tercerahkan agar tidak sering mengonsumsi makanan siap saji.

Redaksi

Menulis adalah cara saya mencari kebenaran yang tak selalu saya anggap kebenaran.

1 comment:

  1. Kalau bahas junk food dan pengaruhnya, mungkin awalnya dari iklan yang udah ngerubah mindset kita kali ya, contoh; kalau enggak makan di KFC, McD, Pizza Hut dan kawan-kawannya yang semakin banyak di jakarta, kita enggak dipanggil bocah millenial yang keren, dan pola pikir ini trus ditampilin di televisi setiap hari. Bahkan ketika udah berhenti nonton tv pun, masih aja kadang gagal nahan diri buat enggak beli junk food, harus lebih dilatih lagi sih kontrol dirinya.

    Lingkungan pergaulan juga ngaruh sih, temen ngerayain ultah, ke KFC, temen abis sidang belinya pizza, dan mau gak mau ikutan gara2 rasa gak enak. Udah sistemik banget sih ini junk food di indo, kecuali ada startup tandingannya yang bisa ngerubah pola makan masyarakat dengan buka restoran dengan menu sehat dan bisa narik hati semua kalangan, junk food yang enggak sehat aja bisa narik banyak orang buat dateng, gimana yang sehat, the question is kapan mereka ada di Indo. Hmm masih bertanya2. :)

    ReplyDelete